blog.sriwahyudi.com | Jika sukses (hanya) diukur dari seberapa besar penghasilan yang didapat, maka dunia ini akan tercabik-cabik oleh keserakahan. "Bagaimana 'mencetak' income semaksimal mungkin, dengan biaya seminimum mungkin..”. (pelajaran Sekolah Dasar)*]
Jika pun kebaikan untuk tim dilakukan, hal itu dikarenakan modus 'mengikat kaki' karyawan. Ketulusan adalah sesuatu yang dirindukan dan menjadi 'komoditas' yang langka. Iya, benar, seharusnya ketulusan adalah komoditas keseharian, bukan barang koleksi yang langka.
Jika sukses diukur hanya dari pendapatan, maka kita lebih memilih membeli robot tanpa protes, daripada menggaji karyawan dengan problematikanya. Maka pengangguran akan semakin besar, kriminalitas mewabah.
Terimakasih kepada mereka, yang tak peduli penilaian sukses material, melainkan seberapa besar menebar manfaat bagi sesama. Merekalah penjaga kestabilan ekosistem. Kita berhutang kepada mereka.
Jika ada yang bertanya, "Apakah dia bisa disebut sukses..?”
Pertanyaan serupa kepada seorang kyai, "Apakah si Fulan itu Wali Allah?”
"Saya tak tahu, kita lihat saja setelah dia meninggal, apakah makamnya terus dipenuhi peziarah..”, jawab sang kyai.
Semoga bisnis kita berkah, menebar manfaat, penuh doa. Aamiin.
Sumber :
Email dari Jaya Setiabudi (Founder Young Entrepreneur Academy dan yukbisnis.com)
Catatan :
*] Hukum ekonomi (Penulis)
Repost by : SW
Repost by : SW
